• 14

    Aug

    Kuliner Khas 17 Agustus-an di Palembang

    Telok Pindang Ketan Sumpit Telok Ukan Telok Abang Sejak dari dahulu sejak zaman kemerdekaan di Palembang di palembang terutama di kawasan Jalan merdeka dari depan Hotel Musi banyak di temui kuliner 17 Agustusan khas Palembang, kata orang tua saya sejak beliau kecil kuliner tersebut sudah ada, seperti telok ukan, telok pindang dan ketan sumpit. Tetapi berdasarkan penuturan dari orang-orang tua ternyata telok abang yang berbentuk pesawat sudah ada sejak zaman kolonial belanda di mana saat sering ada pasar malam di kawasan benteng (sekarang Plaza Benteng Kuto besak), telok abang pun sudah di jual.
  • 18

    Mar

    Pandjat Pinang Doeloe Mainan Pendjajah

    Sebuah pohon pinang yang tinggi dan batangnya dilumuri oleh pelumas disiapkan oleh panitia perlombaan. Di bagian atas pohon tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik. Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon. Oleh karena batang pohon tersebut licin (karena telah diberi pelumas), para pemanjat batang pohon sering kali jatuh. Akal dan kerja sama para peserta untuk memanjat batang pohon inilah yang biasanya berhasil mengatasi licinnya batang pohon, dan menjadi atraksi menarik bagi para penonton Pandjat Pinang Doeloe Mainan Pendjajah Arpan Rachman - Okezone PALEMBANG - Siapa yang tahu sejarahnya sejak kapan permainan panjat pinang? Emi Bachtiar (78), janda pensiunan seorang pejuang kemerdekaan di Palembang, mengungkapkan masa keci
  • 16

    Mar

    Telok Abang - Tradisi Merayakan Hari Kemerdekaan di Kota Ini

    Telok Abang dan Agustus di Palembang memang tidak bisa lepas dari tradisi di kota ini, mainan yang sudah ada sejak sebelum kemerdekaan di mana pada tahun 1930-an saat sering di adakannya pasar malam di kawasan pinggiran sungai musi (sekarang menjadi plaza BKB) dimana pasar malam yang terbentang dari daerah hulu ke hilir (Dari Bekangdam sampai ke Gedung pasar 16 sekarang) awal kemerdekaan kita +/- tahun 1945 baru bendera merah di tambahkan di telok abang ini, memang sangat menarik dan hanya ada di kota ini dan hanya saat menjelang Agustusan, Telok abang yang awalnya hanya berbentuk pesawat terbang sekarang ini sudah banyak modifikasi ada jenis scooter, becak, bus, helikopter, tank dan lain sebahagainya. Jalan merdeka merupakan pusat dari penjualan telok abang di mana dari depan eks hote
  • 4

    Mar

    Baso Pelembang Alus/Bebaso

    Peserta Lomba Cerios Baso Palembang Saat Di Festival Palembang Darussalam X 2008 SEBAGAI salah satu kekayaan budaya Palembang dan sebagai jati diri wong kito (Melayu-Palembang), Baso Pelembang Alus (bebaso) saat ini sudah hampir punah Untuk itu perlu adanya usaha melestarikan dan mendokumentasikannya sebagai wujud kepedulian kita, di antaranya dengan mengadakan kursus atau menerbitkan buku kamus. Pepatah mengatakan: Tak kenal maka tak sayang, Tak saya maka tak cinta. Untuk menumbuhkan rasa sayang dan cinta kepada Kota Palembang, terlebih dahulu kita harus mengenal sejarah dan budaya Palembang, termasuklah dalam hal bahasa. Asal Usul Baso Palembang Alus hampir menyerupai bahasa Jawa, oleh sebab itu banyak orang berasumsi bahwa bahasa Palembang berasal dari Jawa. Namun pada dasarnya tida
  • 2

    Mar

    Tradisi Setelah Melahirkan & Menggunting

    Sama seperti tradisi kelahiran di daerah-daerah lainnya di Indonesia kelahiran merupakan hal yang penuh dengan suka cita di mana pada saat ini di Palembang dulunya saat setelah kelahiran maka orang tua dari suami akan mengantarkan atau memberikan cupu-cupu kecil kepada istri dari anaknya / anak menantunya sebagai bentuk kegembiraan yang di sertai dengan beberapa lembar kain. Di Palembang di ada tradisi yang di sebut “Ngunting” (Cukuran/Marhaban), mungkin sama seperti tradisi di daerah lainnya di Indonesia saat melakukan akikah atau pemberian nama, saat Ngunting di Palembang akan terlihat bendera bendera yang berwarna-warni di mana bendera tersebut ada di lekatkan uang atau permen bahkan sebagian menggunakan telur, dan di ikuti oleh bayi yang akan di gunting rambutnya yang b
  • 23

    Feb

    Tradisi Beratib

    Acara beratib ini di laksanakan sesuai dengan waktu yang telah di tentukan ada yang di lakukan pada malam Jumat, atau selesai acara perayaan ratib samman ini sebagai bentuk suyukuran kepada Allah bahwa acara telah berjalan lancar tanpa satu halangan dan bentuk syukur terhadap karunia Allah. Ratib Samman ini lebih panjang ketimbang pembacaan Surah Yassin dan tahlilan. Sejarah Ratib Samman Syeikh Abdush Shamad al-Palimbani Dalam percaturan intelektualisme Islam Nusantara atau biasa juga disebut dunia Melayu khususnya di era abad 18 M, peran dan kiprah Syeikh Abdush Shamad Al-Palimbani tak bisa dianggap kecil. Syeikh Al-Palimbani, demikian biasa ia disebut banyak kalangan, merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara. Ketokohannya melengkapi nama-na
- Next

Author

Follow Me